Kritik dan Esai Puisi Mashuri
Mashuri lahir di Lamongan, 27 April 1976. Dia menggeluti hal-ihwal terkait tradisionalitas dan religiusitas. Mashuri merupakan lulusan dua pondok pesantren di daerah kelahirannya. Dia menyelesaikan pendidikannya di Universitas Airlangga dan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Di luar aktivitas pendidikannya, Mashuri berkiprah di Komunitas Teater Gapus dan Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP) Surabaya. Karya-karyanya berupa puisi, cerita pendek, esei, novel, naskah drama, sejarah lokal, dan kajian ilmiah dipublikasikan di sejumlah surat kabar. Tahun 2006 Mashuri memenangi Sayembara Menulis Roman Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Setelah menggeluti profesi sebagai pewarta, 1999-2011, sejak 2006 dia berhikmat sebagai peneliti sastra di Balai Bahasa Jawa Timur.
Dibawah ini terdapat beberapa hasil karya puisi Mashuri.
Hantu Kolam
: plung!
di gigir kolam
serupa serdadu lari dari perang
tampangku membayang rumpang
mataku berenang
bersama ikan-ikan, jidatku terperangkap
koral di dasar yang separuh hitam
dan gelap
tak ada kecipak yang bangkitkan getar
dada, menapak jejak luka yang sama
di medan lama
segalangnya dingin, serupa musim yang dicerai
matahari
aku terkubur sendiri di bawah timbunan
rembulan
segalanya tertemali sunyi
mungkin…
“plung!”
aku pernah mendengar suara itu
tapi terlalu purba untuk dikenang sebagai batu
yang jatuh
kerna kini kolam tak beriak
aku hanya melihat wajah sendiri, berserak
Banyuwangi, 2012-12-03
Hantu Musim
aku hanya musim yang dikirim rebah hutan
kenangan – memungut berbuah, dedaunan, juga
unggas – yang pernah mampir di pinggir semi
semarakkan jamuan, yang kelak kita sebut
pertemuan awal, meski kita tahu, tetap mata
itu tak lebih hanya mengenal kembali peta
lama, yang pernah tergurat berjuta masa
bila aku hujan, itu adalah warta kepada ular
sawah hasratku, yang tergetar oleh percumbuan
yang kelak kita sebut sebagai cinta, entah yang
pertama atau keseribu, kerna di situ, aku mampu
mengenal kembali siku, lingkar, bulat, penuh
di situ, aku panas, sekaligus dingin
sebagaimana unggas yang pernah kita lihat
di telaga, tetapi bayangannya selalu
mengirimkan warna sayu, kelabu
dan kita selalu ingin mengulang-ulangnya
dengan atau tanpa cerita tentang musim
yang terus berganti…
Magelang, 2012
Hantu Dermaga
mimpi, puisi dan dongeng
yang terwarta dari pintumu
memanjang di buritan
kisah itu tak sekedar mantram
dalihmu tuk sekedar bersandar bukan gerak lingkar
ia serupa pendulum
yang dikulum cenayang
dermaga
ia hanya titik imaji
dari hujan yang berhenti
serpu ruh yang terjungkal, aura terpenggal dan kekal
tertambat di terminal awal
tapi ritusmu bukan jadwal hari ini
dalam kematian, mungkin kelahiran
kedua
segalanya mengambang
bak hujan yang kembali
merki pantai
telah berpindah dan waktu pergi
menjaring darah kembali
Sidoarjo, 2012
Dari ketiga puisi tersebut memiliki judul yang sama yakni mengenai hantu. Sebelum kita mengupas puisi tersebut kita pelajari terlebih dahulu mengenai hantu. Hantu atau dedemit (Inggris: Ghost) secara umum merujuk kepada roh atau arwah yang meninggalkan badan karena kematian. Kepercayaan akan keberadaan dunia akhir dan roh-roh orang mati sudah ada semenjak manusia menganut kepercayaan animisme atau pemujaan roh nenek moyang pada masa sebelum manusia mengenal tulisan. Hantu sendiri umumnya dideskripsikan sebagai suatu zat yang seperti manusia, walaupun terdapat pula kisah mengenai hantu hewan.Mereka diyakini menghuni tempat, objek atau orang tertentu yang terkait dengan mereka pada saat mereka masih hidup.
Seperti yang diketahui bahwa hantu dapat menghuni pada suatu tempat. Sudah disinggung pada judul puisi Mashuri yaitu hantu kolam dan hantu dermaga. Pada puisi hantu kolam berisi tentang pada saat penyair menulis tersebut dia berada di sebuah tepi kolam kemudian mendengar suara benda yang jatuh di kolam tersebut. Penyair hanya mendefinisikan asal mula suara tersebut yakni berasal pada batu yang jatuh pada kolam. Sedangkan pada puisi hantu dermaga penyair mendefinisikan bahwa hantu layaknya sebuah dermaga di pelabuhan. Berwujud panjang, tidak bergerak namun menggantung. Tetapi juga upacara kematian hanya pada waktu tertentu yakni pada hari kedua setelah kematian.
Selanjutnya pada puisi hantu musim, penyair menggambarkan kondisi dimana tanaman di sawah seperti padi tumbuh dengan subur. Unggas atau burung-burung datang untuk memakan padi yang telah siap untuk dipanen. Puisi kedua ini berjudul “Hantu Musim” namun sama seperti dengan puisi pertama tidak ada kaitannya dengan sosok hantu melainkan penulis mengibaratkan sebuah perubahan musim atau keadaan yang terkadang menakutkan untuk sebagian petani karena mempengaruhi panen padi, sama halnya seperti sosok hantu yang kita kenal menakutkan.Pada puisi tersebutmemiliki makna kondisi atau keadaan di area sawah saat musim berganti. Pada bait pertama puisi yang berbunyi,
Pada puisi pertama terdiri dari 4 bait dan 23 baris, puisi kedua terdiri dari 3 bait dan 19 baris, puisi ketiga terdiri dari 2 bait dan 20 baris. Setiap karya sastra memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kelebihan dari puisi di atas yaitu ketiga puisi tersebut memiliki keterkaitan yaitu dimana judulnya berkaitan dengan kata “Hantu”, kemudian jika dilihat dari puisi pertama,
kedua, dan ketiga baitnya berurutan yaitu 4, 3, dan 2, selain itu puisi di atas ditulis dalam tahun yang sama yaitu 2012. Kekurangan dari puisi di atas adalah pemilihan kata yang digunakan sulit untuk dipahami, sehingga sulit untuk memahami makna dari puisi tersebut. Seperti yang kita ketahui bahwa setiap penulis, sastrawan, memiliki gaya menulis mereka masing-masing, hal tersebut membuat hasil karya sastra mereka menjadi menarik untuk dinikmati.

Komentar
Posting Komentar