Kritik dan esai puisi "Idul Fitri"
Puisi karya Sutardji Calzoum Bachri seorang penulis yang kerap kali disebut sebagai Presiden Penyair Indonesia yang berjudul "Idul Fitri" ini sesuai dengan waktu saat ini, karena baru saja kita sebagai umat muslim telah melalui 1 bulan ramadhan penuh hingga sampai pada 1 Syawal atau hari raya idul Fitri. Puisi ini menceritakan dari awal perjuangan menuju hari raya idul fitri yaitu pada saat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Terlihat pada larik di bawah ini.
Pedang tobat ini menebas-nebas hati
dari masa lampau yang lalai dan sia
Telah kulaksanakan puasa ramadhanku,
Makna dari beberapa larik di atas dapat disimpulkan bahwasanya pedang tobat atau kesucian kembali didapatkan, karena makna dari idul Fitri itu sendiri bermakna kembali suci, akan tetapi juga harus ada usahanya untuk menghapus dosa-dosa yang telah dilakukan dan bisa mengamalkan kesucian diri yaitu dengan cara menjalankan ibadah puasa di bulan ramadhan 1 bulan penuh.
Kewajiban berpuasa pada bulan Ramadhan telah jelas disebutkan dalam al-Qur’an, dan disunnahkannya shalat (tarawih) di malam harinya telah disebutkan dalam hadis Nabi yang kualitasnya shahih. Selain berpuasa, umat muslim juga dianjurkan untuk melakukan ibadah lain. Ibadah tersebut juga disinggung pada bait berikut.
telah kutegakkan shalat malam
telah kuuntaikan wirid tiap malam dan siang
Telah kuhamparkan sajadah
Yang tak hanya nuju Ka'bah
tapi ikhlas mencapai hati dan darah
Dan di malam-malam Lailatul Qadar akupun menunggu
Namun tak bersua Jibril atau malaikat lainnya
Kutipan tersebut menyiratkan makna seorang umat yang melakukan pengasingan diri untuk mengintropeksi dirinya sendiri dan memohon pengampunan atas dosa-dosa yang telah dilakukan dengan cara mendekatkan diri kepada sang penciptanya dengan melakukan sholat tarawih, sholat tahajud dengan menggelar sajadah untuk mendapatkan lailatul qadar di malam ganjil pada sepuluh malam terakhir di bulan ramadhan.
Bisa dikatakan tema dari puisi ini yaitu tentang religius, atau yang lebih familiar di dalam karya sastra biasa disebut religiusitas. Teori tentang religiusitas ini yaitu membahas tentang pengabdian seorang umat terhadap agama dan keyakinan yang dianutnya. Konsep religiusitas rumusan C.Y. Glock & R. Stark mengatakan bahwa religiusitas terdiri dari lima macam dimensi yaitu, dimensi keyakinan, dimensi praktik agama, dimensi penghayatan atau pengalaman, dimensi pengetahuan, dan dimensi pengamalan atau konsekuensi.
Dimensi keyakinan, yaitu dimensi berisi pengharapan-pengharapan dimana orang religiusitas berpegang teguh pada pandangan teologis tertentu dan mengakui kebenaran doktrin-doktrin tersebut. Terlihat pada potongan-potongan larik larik di bawah ini:
Takkan kulupa janji-Nya
Dan kurayakan kelahiran kembali di sana.
Pada bait tersebut memiliki makna bahwa ramadhan telah berakhir. Semua umat islam pasti akan merindukan bulan ramadhan yang penuh kenikmatan.
Puisi karya Sutardji Calzoum Bachri merupakan puisi religius. Bahasa pada puisi mudah dipahami oleh pembaca. Pengakuan masa kelam dan pertobatan penulis sangat menonjol pada puisi ini. proses “penyucian jiwa” setiap individu berbeda-beda kadarnya. Sebagaimana dialami Sutardji. Namun, sangat dimungkinkan setiap individu mengalami kelahiran kembali dirinya sebagai manusia (dengan fitrah awalnya). Jalan ke arah itu, bagaikan tengah memasuki sebuah rumah dengan sederet pintu-pintu rahasia didalamnya. Guna mendapatkan ridha-Nya, tugas kita yakni menemukan kunci pembuka pintu rahasia tersebut.
Penyair, kata Sutardji, bukan penyaksi kejadian yang lalu-lalang di hadapan mata inderanya. Dia adalah penyaksi kebenaran hakiki, yang merupakan pusat dari kehidupan. Puisi adalah ungkapan dari sebuah perjalanan spiritual menuju ke lubuk rahasia-rahasia. Jika sudah sampai kepada yang rahasia, ia akan mengalami pencerahan dan karenanya akan mengalami kebangunan diri kembali.

Komentar
Posting Komentar