Ulama Durna Ngesot ke Istana” karya M. Shoim Anwar
“Ulama Durna Ngesot ke Istana”
Puisi : M. Soim Anwar
Durna adalah seorang pendeta yang sudah tuntas secara keilmuannya. Bagi kerajaan Astina fungsi Durna adalah sebagai pendeta, yaitu sebagai penasihat raja dalam urusan spiritual. Sama seperti Begawan Abhiyasa bagi keluarga Pandawa. Sama juga dengan peran Walisongo bagi Kerajaan Demak juga Abdi Dalem Kotib bagi Keraton Yogyakarta dan Surakarta.Durna Sang Begawan Sokalima ini menjadi pendeta kerajaan Astina dan menjadi satu pribadi yang asketik. Pribadi yang mampu nutupi babagan hawa sanga (menutup 9 lubang hawa nafsu raga manusia).Wujud Durna ini digambarkan sebagai wayang yang bertubuh rusak, dalam kisah tersendiri masa mudanya bernama Bambang Kumbayana yang mengalami satu perkelahian hebat dengan Bambang Palasara. Dan menyebabkan hidung dan telinganya terbalik, matanya tidak dapat terbuka lebar, melainkan setengah terpejam seperti mata Semar. Karena bagi durna dan Semar yang sebagai dewa pengawak manungsa (dewa beraga/berbadan manusia) itu, bukan mata indra yang penting tetapi mata hati.
Adapun puisi nya yaitu sebagai berikut.
Lihatlah
sebuah panggung di negeri sandiwara
ketika ada Ulama Durna ngesot ke istana
menjilat pantat raja agar diberi jatah remah-remah
maka kekuasaan menjadi sangat pongah
memesan potongan-potongan ayat untuk diplintir sekenanya
agar segala tingkah polah dianggap absah
Lihatlah
ketika Ulama Durna ngesot ke istana
menyerahkan marwah yang dulu diembannya
Sengkuni dan para pengikutnya di luar sana
bertingkah sok gagah berlindung di ketiak penguasa
menunggang banteng bermata merah
mengacungkan arit sebagai senjata
memukulkan palu memvonis orang-orang ke penjara
Lihatlah
ketika Ulama Durna berdagang mantra berbusa-busa
adakah ia hendak menyulut api baratayuda
para pengikutnya mabuk ke lembah-lembah
tatanan yang dulu dicipta oleh para pemula
porak poranda dijajah tipu daya
oh tahta dunia yang fana
para begundal mengaku dewa-dewa
sambil menuding ke arah kawula
seakan isi dunia hendak diuntal mentah-mentah
Lihatlah
ketika Ulama Durna ngesot ke istana
pada akhir perebutan tahta di padang kurusetra
ia diumpankan raja ke medan laga
terhenyaklah saat terkabar berita
anak hasil perzinahannya dengan satwa
telah gugur mendahului di depan sana
Ulama Durna bagai kehilangan seluruh belulangnya
ia menunduk di atas tanah
riwayatnya pun berakhir sudah
kepalanya terpenggal karena terpedaya
menebus karmanya saat baratayuda
Desember 2020
Kritik dan Esai Puisi “Ulama Durna Ngesot ke Istana
Lihatlah.
Sebuah panggung di negeri sandiwara.
Ketika ada Ulama Durna ngesot ke istana.
Menjilat pantat raja agar diberi jatah remah-remah.
Maka kekuasaan menjadi sangat pongah.
Memesan potongan-potongan ayat untuk diplintir sekenanya.
Agar segala tingkah polah dianggap absah
Bait pertama pada puisi di atas menjelaskan bahwa ketika durna mencari celah untuk mencari sebuah keadilan semua tingkah laku aneh dan tidak senonoh dilakukannya untuk mendapatkan empati dan persetujuan dari sang kuasa. Durana adalah Resi Durna, yang semasa muda dikenal dengan nama Bambang Kumbayana. Ia putra seorang Begawan bernama Resi Baratmadya dari Padepokan Hargajemparing. Meski memiliki kepandaian luar biasa---terutama di bidang strategi peperangan, perwatakan Durna digambarkan sebagai sosok yang licik, bengis, kejam dan banyak bicara. Karena watak tidak terpujinya itu sang Ayah sering kali menegurnya. Salah satunya dengan cara meminta agar putranya itu segera melepas masa lajang. Sang Ayah berharap, barangkali dengan menikah, putranya itu akan berubah menjadi ksatria yang lebih baik dan santun
Lihatlah
ketika Ulama Durna ngesot ke istana
menyerahkan marwah yang dulu diembannya
Sengkuni dan para pengikutnya di luar sana
bertingkah sok gagah berlindung di ketiak penguasa
menunggang banteng bermata merah
mengacungkan arit sebagai senjata
memukulkan palu memvonis orang-orang ke penjara
Pada, bait kedua, memiliki makna hampir sama dengan bait pertama yaitu seseorang yang ingin bertahan hidup rela menyerahkan harga dirinya atau kehormatannya kepada orang-orang yang memiliki kekuasaan meskipun orang-orang tersebut memiliki sifat buruk karena kekuasaan adalah segalanya.
Lihatlah
ketika Ulama Durna berdagang mantra berbusa-busa
adakah ia hendak menyulut api baratayuda
para pengikutnya mabuk ke lembah-lembah
tatanan yang dulu dicipta oleh para pemula
porak poranda dijajah tipu daya
oh tahta dunia yang fana
para begundal mengaku dewa-dewa
sambil menuding ke arah kawula
seakan isi dunia hendak diuntal mentah-mentah
Bait ketiga, penggalan tersebut, makna tersirat dengan simbolik yaitu ‘berdagang mantra berbusa-busa’ dalam hal ini bisa dikaitkan dengan aspek kehidupan bahwa sesorang yang mengandalkan bicara tanpa melakukan tindakan akan sia-sia. Begitu juga Durna yang diilustrasikan secara sarkas dalam bait ini yang menjadi penggugah emosi dalam berpuisi. Sehingga pembaca menemukan refleksi yang berbeda dengan cerita nyata.
Lihatlah
ketika Ulama Durna ngesot ke istana
pada akhir perebutan tahta di padang kurusetra
ia diumpankan raja ke medan laga
terhenyaklah saat terkabar berita
anak hasil perzinahannya dengan satwa
telah gugur mendahului di depan sana
Ulama Durna bagai kehilangan seluruh belulangnya
ia menunduk di atas tanah
riwayatnya pun berakhir sudah
kepalanya terpenggal karena terpedaya
menebus karmanya saat baratayuda
Bait keempat, memiliki makna setelah melakukan segala hal namun hasilnya justru tidak seperti yang diinginkan bahkan kerugian yang diterima sehingga rasa peneyesalan timbul setelah semua yang telah dilalui.
Puisi di atas dengan judul “Ulama Durna Ngesot ke Istana”, terdiri dari 4 bait dan 37 baris. Setiap karya sastra memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kelebihan dari puisi di atas yaitu setiap baris berima a. Kekurangan dari puisi di atas yaitu pemilihan kata atau diksi yang digunakan sulit untuk dipahami sehingga harus membaca berulangkali untuk memahami makna dari puisi tersebut.
Kembali pada kehidupan nyata bangsa Indonesia ini, peran Ulama yang semulanya akan dimuliakan sebagai wadah perwakilan ormas-ormas Islam dengan fungsi penasihat spiritual pemerintah. Namun hal itu bergantung pada perilaku pribadi-pribadi ulama dalam lembaga MUI tersebut. Apakah akan memilih peran sebagai Begawan Sokalima Durna yang mampu menutup segala hawa nafsu manusia dan melakoni dewa pangawak manungso dalam merumuskan fatwa-fatwa yang mampu berdampak kemaslahatan umat di bumi Indonesia.Atau akan mengambil peran seorang patih Sangkuni yang selalu bergelut dengan tipu daya, fitnah dan segala intrik politik kepentingan kekuasaan dan uang dalam melaksanakan fatwa-fatwanya sebagai pembenar aksi-aksi keji para Kurawa.
Demikian kritik dan esai dalam puisi Ulama Durna Ngesot ke Istana” karya M. Shoim Anwar
Komentar
Posting Komentar