Ulama Abiyasa Tak Pernah Minta Jatah


ABIYASA dikenal pula dengan nama Resi Wiyasa (Mahabharata). Ia putra Resi Palasara dari pertapaan Retawu, dengan Dewi Durgandini, putri Prabu Basuketi, raja Wirata. Abiyasa memiliki sifat dan perwatakan ; pandai, sangat cerdas, arif bijaksana, alim, soleh, berwibawa, limpad dan linuwih. Ia juga memiliki berbagai keistimewaan antara lain ; ahli bertapa, ahli nujum, ahli pengobatan (tabib), banyak memiliki ilmu kesaktian, ahli tata negara dan tata pemerintahan. Abiyasa juga mendapat anugrah Dewata berumur panjang.

Pada kesempatan kali ini, penulis akan membahas mengenai puisi yang berjudul "Ulama Abiyasa Tak pernah Minta Jatah" karya M. Shoim Anwar . Adapun puisinya sebagai berikut


Ulama Abiyasa adalah guru yang mulia


panutan para kawula dari awal kisah


ia adalah cagak yang tegak

tak pernah silau oleh gebyar dunia


tak pernah ngiler oleh umpan penguasa


tak pernah ngesot ke istana untuk meminta-minta jatah


tak pernah gentar oleh gertak sejuta tombak


tak pernah terpana oleh singgasana raja-raja



Pada bait pertama menyiratkan sosok Abiyasa yang layak menjadi panutan karena tidak tergoyahkan oleh urusan dunia. Pendirian Abiyasa juga selalu tetap tidak perduli dengan rayuan oleh para raja. Kehidupan yang sederhana juga terdapat pada pribadi Abiyasa sehingga dia tak perduli dengan kehidupan mewah di istana. 


Ulama Abiyasa merengkuh teguh hati dan lidah


marwah digenggam hingga ke dada


tuturnya indah menyemaikan aroma bunga


senyumnya merasuk hingga ke sukma


langkahnya menjadi panutan bijaksana


kehormatan ditegakkan tanpa sebiji senjata


Bait kedua pada puisi tersebut menceritakan Abiyasa yang dapat dengan mudah memberi petuah kepada orang karena tuturannya yang rendah hati sehingga mudah diingat oleh para pendengar. Serta segala tingkah laku Abiyasa pun juga menjadi panutan orang karena kebijaksanaannya dalam bertindak. 

Ulama Abiyasa bertitah


para raja dan penguasa bertekuk hormat padanya


tak ada yang berani datang minta dukungan jadi penguasa


menjadikannya sebagai pengumpul suara


atau didudukkan di kursi untuk dipajang di depan massa


diberi pakaian dan penutup kepala berharga murah


agar tampak sebagai barisan ulama


Ulama Abiyasa tak membutuhkan itu semua


datanglah jika ingin menghaturkan sembah


semua diterima dengan senyum mempesona


jangan minta diplintirkan ayat-ayat asal kena


sebab ia lurus apa adanya


mintalah arah dan jalan sebagai amanah


bukan untuk ditembangkan sebagai bunga kata-kata


tapi dilaksanakan sepenuh langkah


Pada bait ketiga ini berisi tentang pada suatu waktu Abiyasa memberi tuturan yang membuat para raja dan penguasa daoat bertekuk lutut kepada Abiyasa. Setelah kejadian itu Abiyasa di agung-agungkan dengan diberi kursi raja diistana dan memakai baju dan penutup kepala. Namun bukan itu yag diinginka oleh Abiyasa. Ia hanya ingin menjadi seorang yang sederhana. Dia berpesa agar kapan pun semua orang bisa datang jika dibutuhkan. Namun datanglah untuk meminta jalan dan arah yang benar agar tidak tersesat kemudian.

Itulah puisi "Ulama Abiyasa Tak pernah Minta Jatah" karya M. Shoim Anwar. Dari puisi tersebut dapat diambil kesimpulan jika seorang guru harus memiliki rendah hati yang besar agar layak menjadi panutan untuk semua orang. Seorang guru juga tidak boleh berkepala besar agar dijadikan sebagai raja, diberi kekuasaan sehingga dapat bertingkah laku semaunya. Dalam memberi tuturan seorang guru juga harus baik dan santun. Sehingga apa yang diberikan dapat diterima dengan baik oleh pendengar. 

Adapun kelebihan dari puisi tersebut yaitu bahasa yang mudah dipahami sehingga pembaca dapat memahami makna puisi tersebut dan memiliki akhir rima yang sama 'a' sehingga puisi tersebut menjadi lebih indah. Sedangkan kekurangan puisi tersebut yaitu kurangnya bercerita kehidupan mengenai tokoh utama yakni Abiyasa.
 

Komentar