Ulama Abiyasa Tak Pernah Minta Jatah
Pada kesempatan kali ini, penulis akan membahas mengenai puisi yang berjudul "Ulama Abiyasa Tak pernah Minta Jatah" karya M. Shoim Anwar . Adapun puisinya sebagai berikut
Ulama Abiyasa adalah guru yang mulia
panutan para kawula dari awal kisah
ia adalah cagak yang tegak
tak pernah silau oleh gebyar dunia
tak pernah ngiler oleh umpan penguasa
tak pernah ngesot ke istana untuk meminta-minta jatah
tak pernah gentar oleh gertak sejuta tombak
tak pernah terpana oleh singgasana raja-raja
Pada bait pertama menyiratkan sosok Abiyasa yang layak menjadi panutan karena tidak tergoyahkan oleh urusan dunia. Pendirian Abiyasa juga selalu tetap tidak perduli dengan rayuan oleh para raja. Kehidupan yang sederhana juga terdapat pada pribadi Abiyasa sehingga dia tak perduli dengan kehidupan mewah di istana.
Ulama Abiyasa merengkuh teguh hati dan lidah
marwah digenggam hingga ke dada
tuturnya indah menyemaikan aroma bunga
senyumnya merasuk hingga ke sukma
langkahnya menjadi panutan bijaksana
kehormatan ditegakkan tanpa sebiji senjata
Bait kedua pada puisi tersebut menceritakan Abiyasa yang dapat dengan mudah memberi petuah kepada orang karena tuturannya yang rendah hati sehingga mudah diingat oleh para pendengar. Serta segala tingkah laku Abiyasa pun juga menjadi panutan orang karena kebijaksanaannya dalam bertindak.
Ulama Abiyasa bertitah
para raja dan penguasa bertekuk hormat padanya
tak ada yang berani datang minta dukungan jadi penguasa
menjadikannya sebagai pengumpul suara
atau didudukkan di kursi untuk dipajang di depan massa
diberi pakaian dan penutup kepala berharga murah
agar tampak sebagai barisan ulama
Ulama Abiyasa tak membutuhkan itu semua
datanglah jika ingin menghaturkan sembah
semua diterima dengan senyum mempesona
jangan minta diplintirkan ayat-ayat asal kena
sebab ia lurus apa adanya
mintalah arah dan jalan sebagai amanah
bukan untuk ditembangkan sebagai bunga kata-kata
tapi dilaksanakan sepenuh langkah
Pada bait ketiga ini berisi tentang pada suatu waktu Abiyasa memberi tuturan yang membuat para raja dan penguasa daoat bertekuk lutut kepada Abiyasa. Setelah kejadian itu Abiyasa di agung-agungkan dengan diberi kursi raja diistana dan memakai baju dan penutup kepala. Namun bukan itu yag diinginka oleh Abiyasa. Ia hanya ingin menjadi seorang yang sederhana. Dia berpesa agar kapan pun semua orang bisa datang jika dibutuhkan. Namun datanglah untuk meminta jalan dan arah yang benar agar tidak tersesat kemudian.
Itulah puisi "Ulama Abiyasa Tak pernah Minta Jatah" karya M. Shoim Anwar. Dari puisi tersebut dapat diambil kesimpulan jika seorang guru harus memiliki rendah hati yang besar agar layak menjadi panutan untuk semua orang. Seorang guru juga tidak boleh berkepala besar agar dijadikan sebagai raja, diberi kekuasaan sehingga dapat bertingkah laku semaunya. Dalam memberi tuturan seorang guru juga harus baik dan santun. Sehingga apa yang diberikan dapat diterima dengan baik oleh pendengar.
Adapun kelebihan dari puisi tersebut yaitu bahasa yang mudah dipahami sehingga pembaca dapat memahami makna puisi tersebut dan memiliki akhir rima yang sama 'a' sehingga puisi tersebut menjadi lebih indah. Sedangkan kekurangan puisi tersebut yaitu kurangnya bercerita kehidupan mengenai tokoh utama yakni Abiyasa.

Komentar
Posting Komentar